Penelusuran Benang Merah



Pencarian Benang Merah (judul asli dalam bahasa Inggris: A Study in Scarlet) ialah novel fiksi detektif karya Sir Arthur Conan Doyle yang mengenalkan tokoh detektif konsultan rekaannya, Sherlock Holmes, dan teman dekat sekaligus juga penulis cerita petualangannya, dr. Watson, yang nantinya bisa menjadi dua tokoh populer di dunia sastra.

Doyle menulis cerita ini di tahun 1886 serta diedarkan satu tahun setelah itu. Judul novel ini diambil dari keterangan Holmes pada Watson tentang kerjanya, jika penyidikan masalah pembunuhan dalam narasi ini adalah "pencarian benang merah".

Sebelumnya, narasi ini serta tokoh intinya cuma menarik sedikit perhatian publik waktu dimuat dalam Beeton's Christmas Annual edisi tahun 1887. Sekarang, cuma ada sebelas eksemplar yang diketahui masih berhalaman komplet hingga nilainya juga lumayan tinggi.[2] Novel ini adalah satu dari empat novel yang tampilkan Sherlock Holmes karya Doyle serta diteruskan oleh Empat Pemburu Harta yang keluar di tahun 1890. Pencarian Benang Merah adalah novel fiksi detektif pertama yang manfaatkan kaca pembesar untuk alat membantu penyidikan.

Doyle menulis novel ini waktu dia masih berumur 27 tahun dalam tempo kurang dari tiga minggu.[4] Untuk dokter umum di Southsea, Portsmouth, dia seringkali menulis narasi pendek yang dimuat dalam beberapa majalah saat itu ibarat London Society. Narasi ini awalannya bertopik A Tangled Skein (bahasa Indonesia: Untaian Kusut), tapi pada akhirnya dirubah jadi judul yang diketahui saat ini waktu diedarkan oleh Ward Lock & Co. dalam Beeton's Christmas Annual edisi tahun 1887 sesudah berulang-kali tidak diterima. Doyle terima £25 untuk kompensasi atas hak cipta narasi ini walau dia sebetulnya sudah minta kompensasi berbentuk royalti.

Popular posts from this blog

Conventional reaction

Hip-hop's fascination with fight images has to do with greater than physical violence

The power of a tune in an unusual land